Acronis baru-baru merilis laporan Acronis Cyberthreats Report tahunan buat 2022 yang berisi tinjauan mendalam tentang tren dan ancamanan keamanan siber atau Cybersecurity di semua global.

Laporan Acronis ini pun memperingatkan bahwa penyedia layanan mempunyai risiko tinggi terhadap celah keamanan siber. Penjahat siber sendiri saat ini sudah memakai lebih banyak alat manajemen yang bisa menyebabkan banyak kerentanan dalam serangan terhadap rantai pasokan atau supply chain.

Serangan rantai pasokan ini bersifat destruktif karena penyerang memperoleh akses langsung ke usaha dan klien. Hal ini mirip halnya serangan yang terjadi di SolarWinds tahun lalu, serta serangan Kaseya VSA pada awal 2021 yang melumpuhkan ratusan hingga ribuan UKM.

Laporan Acronis juga menunjukkan bahwa selama paruh kedua tahun 2021, hanya ada 20 % perusahaan yang tidak melaporkan penyerangan, dibandingkan menggunakan 32 % di tahun 2020 yang menunjukkan bahwa serangan cybersecurity mengalami peningkatan secara menyeluruh.

“Industri kejahatan siber ibarat sebuah mesin yang diberi pelumas dengan baik, memakai kecerdasan cloud serta mesin untuk mengukur dan mengotomatisasi operasi mereka. ketika deretan ancaman terus berkembang, kami melihat bahwa vektor serangan utamanya permanen sama dan masih bekerja dengan baik,” kata VP of Cyber Protection Research Acronis Candid Wüest, melansir berasal Medcom.id, Selasa (4/1/2022).

Candid melanjutkan, ketika kemunculan serangan bertambah serta menyebabkan ketidakpastian pada tahun 2022, otomatisasi perlindungan siber permanen sebagai satu-satunya jalan menuju keamanan yang lebih baik, mengurangi risiko, menawarkan porto yang lebih rendah, dan menaikkan efisiensi dari keamanan siber sendiri.

Acronis Cyberthreats Report 2022 kemudian mengacu di pemeriksaan data serangan serta ancaman yang dikumpulkan oleh jaringan global perusahaan Acronis CPOC yang memantau serta meneliti ancaman serangan siber.

Data malware pun dikumpulkan oleh Acronis melalui lebih asal 65.000 titik akhir unik di seluruh dunia yang menjalankan Acronis Cyber Protect. Pembaruan di akhir tahun 2021 sendiri mencakup serangan yang menargetkan titik akhir yang terdeteksi antara Juli hingga November 2021.

 

cyber

 

Berdasarkan peningkatan efisiensi penjahat siber dan dampaknya terhadap MSP serta bisnis kecil, Acronis memprediksi empat tren serangan siber pada tahun 2022 menjadi berikut :

 

1. Phishing masih sebagai vektor serangan primer

94 % malware dari laporan Acronis dikirimkan melalui email menggunakan teknologi rekayasa sosial buat bisa mengelabui pengguna supaya membuka lampiran atau tautan yang berbahaya.

Phishing sendiri telah menduduki posisi tertinggi buat serangan siber bahkan sebelum pandemi. pada tahun 2021 saja, Acronis melaporkan bahwa ada 23 % lebih banyak pemblokiran email phishing, dan 40 persen lebih banyak email malware di Q3 dibandingkan dengan Q2 pada tahun yang sama.

 

2. Pelaku phishing beralih ke messenger

Penargetan terhadap OAuth dan alat multi-factor authenticator (MFA) ketika ini menjadi trik baru bagi penjahat siber untuk mengambil alih akun. Guna melewati alat anti-phishing umum, mereka akan menggunakan pesan teks, Slack, obrolan Teams, dan alat-alat lainnya untuk serangan seperti penyusupan email usaha (BEC).

Salah satu contoh terbaru terkait ini merupakan pembajakan populer dari layanan email FBI sendiri yang disusupi oleh pelaku agresi siber dan mulai mengirim email spam di November 2021.

 

3. Ransomware masih sebagai ancaman primer

Ransomware terus menjadi keliru satu serangan siber yang paling menguntungkan ketika ini, terutama dengan berbagai sektor seperti publik, pelayanan kesehatan, manufaktur, sampai organisasi yang mempunyai nilai tinggi.

Acronis pun memperkirakan bahwa kerugian yang diakibatkan serangan ransomware akan melebihi USD 20 miliar sebelum akhir tahun 2021.

 

4. Mata uang kripto jadi sasaran utama

Infostealer serta malware yang menukar alamat dompet digital sebagai sebuah realitas pada masa kini . Acronis pun memprediksi adanya agresi homogen yang lebih besar dilancarkan secara eksklusif terhadap kontrak pintar di tahun 2022, menyerang program-program inti di mata uang kripto.

Serangan siber pula diprediksi Acronis lebih acapkali terjadi pada software web 3.0, serta akan ada banyak serangan canggih baru mirip serangan pinjaman kilat yang memungkinkan penyerang bisa menguras jutaan dollar berasal perpaduan mata uang kripto.

Secara keseluruhan sendiri, laporan Acronis mencatat bahwa 2021 adalah tahun terburuk tentang keamanan siber atau cybersecurity. Hal ini pun tidak hanya berkaitan menggunakan organisasi, melainkan pula banyak negara, termasuk bagi Indonesia.

Terlepas asal upaya terbaik yang sudah dilakukan, survei terbaru Acronis menunjukkan bahwa banyak pihak di Indonesia yang masih tidak menggunakan alat perlindungan siber apapun buat mencegah serangan.

Serangan malware sendiri permanen menjadi kenyataan dunia yang harus dilawan oleh setiap negara. Meninjau deteksi malware yang dinormalisasi dalam penelitian, negara-negara mirip Taiwan, Singapura, Tiongkok, dan Brazil mempunyai tingkat deteksi lebih dari 50 %.

Jenis serangan ransomware sendiri dengan kentara semakin tinggi di wilayah negara-negara APAC. tingkat deteksi malware yang tinggi memberikan bahwa negara-negara tersebut telah lebih memperhatikan proteksi siber dengan menaikkan kemampuan deteksi mereka.

 

Baca Juga :

  1. TEKNOLOGI BIG DATA DIMANFAATKAN UNTUK MENGURANGI RESIKO BENCANA
  2. TEKNOLOGI ARTIFICIAL INTELLIGENCE MEMBANTU CEGAH KERUSAKAN HUTAN
  3. IBM TARGET MENGEMBANGKAN HYBIRD CLOUD DAN AI UNTUK BISNIS JELAS
  4. MENGENAI KEAMANAN PRODUK IOT XIAOMI MEMPUNYAI NILAI TERTINGGI
  5. PERUSAHAAN DI INDONESIA DIHARAPKAN MULAI BERTRANSFORMASI KE CLOUD