![]() |
Judul Buku | Komunikasi Moderat Dalam Bahasa Jurnalistik |
| Penulis | :Dr. Dedi Sahputra,MA | |
| Desain Cover | :Zahira Nufus | |
| Editor | : Yuan Anisa, S.SI.,M.Si | |
| Fakultas | : Ilmu Komunikasi | |
| Jenis Buku | : Buku Ajar | |
| Tahun terbit | : 2023 | |
| No Isbn | : Dalam Proses | |
| Abstrak | : Download |
SINOPSIS
Judul buku itu terdengar bombastis, bahkan terasa berlebihan, tetapi jika meluaskan makna “bahasa asing” hingga tidak hanya terbatas pada bahasa Arab dan bahasa Eropa seperti Belanda, Inggris, Inggris, Portugis, Perancis, Spanyol, Yunani, dan Italia), atau bahasa Asia seperti bahasa Sansekerta, China, Tamil, Persia, dan Ibrani, tapi juga memasukkan bahasa daerah Indonesia sendiri, maka judul itu sepertinya jadi terdengar masuk akal. Karena betapa sering kita temui kosa kata Indonesia yang berasal dari bahasa Jawa, Batak, Minangkabau, Betawi, Sunda, Bugis-Makasar, Batak dan lainnya.
Namun akan halnya bahasa Indonesia yang digunakan di media massa berada dalam posisi di antara keduanya—antara bahasa pasaran yang longgar dan bahasa akademis dan hukum yang kaku. Di sinilah posisi moderat bahasa jurnalistik dalam kancah dinamisasi bahasa Indonesia yang digunakan secara umum dalam ruang publik. Pembahasan dalam buku ini antara lain menyangkut antara lain tentang bahasa jurnalistik dan dinamika bahasa Indonesia, tinjauan teoritis komunikasi yang menyangkut media massa dan penggunaan bahasa, peristilahan moderat dalam padanan Islam yang terkait dengan dinamika politik global, serta bahasan tentang makna moderat dalam pembahasan jagat raya.
Pada edisi revisi buku ini dilengkapi dengan beberapa penambahan pembahasan seperti karakteristik, disfemia dan tinjauan bahasa baku dalam bahasa jurnalistik. Bahwa bahasa jurnalistik memiliki beberapa karakteristik yang membedakannya dengan jenis bahasa lainnya seperti bahasa akademik atau bahasa slak yang lazim dipakai secara nonformal. Sedangkan disfemia berkaitan dengan pengasaran makna dalam penggunaan kata-kata dan juga kalimat dalam produk jurnalistik. Dalam penulisan berita, khususnya dalam judul berita sering menggunakan teknik disfemia ini untuk memberikan efek yang lebih membekas di benak khalayak. Publik yang mengonsumsi media massa dirangsang ketertarikannya melalui pemberitaan media massa dalam menginformasikan peristiwa yang disebut dengan produk jurnalistik. Dalam praktiknya bahasa jurnalistik akan memiliki dinamika yang berbeda dengan bahasa baku sebagai pedoman penggunaan bahasa nasional. Perbedaan dinamika yang terjadi ini akan menimbulkan perbedaan penggunaan bahasa dalam produk jurnalistik.
