XL Axiata Tbk (dahulu Excelcomindo Pratama Tbk) (EXCL) didirikan lepas 06 Oktober 1989 menggunakan nama PT Grahametropolitan Lestari serta memulai aktivitas usaha komersialnya di tahun 1996. kantor pusat EXCL terletak di grhaXL, Jalan DR. inspirasi Anak Agung Gde Agung (dahulu Jalan Mega Kuningan) Lot. Pemegang saham yg memiliki lima% atau lebih saham XL Axiata Tbk, merupakan Axiata Investments (Indonesia) SDN. Bhd. (66,36%), adalah perusahaan yang dimiliki sepenuhnya oleh Axiata Investments (Labuan) Limited. Axiata Investments (Labuan) Limited artinya anak perjuangan Axiata gerombolan Berhad.
Berdasarkan aturan Dasar Perusahaan, ruang lingkup aktivitas EXCL melakukan aktivitas pada perjuangan penyelenggaraan jasa telekomunikasi serta/atau jaringan telekomunikasi dan /atau multimedia. aktivitas perjuangan primer XL Axiata artinya menyediakan layanan data dan teleponi seluler dengan teknologi GSM 900/DCS 1800 dan IMT-2000/3G di Indonesia. Selain itu, XL Axiata jua memegang Lisensi Jaringan Tertutup Reguler (Leased Line), Lisensi Internet Service Provider (ISP), Lisensi Voice over Internet Protocol (VoIP), dan Lisensi Internet Interkoneksi Layanan (NAP), dan biar e-Money (Uang elektronik) asal Bank Indonesia, yg akan memungkinkan EXCL buat menyediakan jasa pengiriman uang pada pelanggannya.
Pada lepas 16 September 2005, EXCL memperoleh pernyataan efektif berasal Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran awam Perdana Saham EXCL (IPO) pada masyarakat sebanyak 1.427.500.000 menggunakan nilai nominal Rp100,- per saham dengan harga penawaran Rp2.000,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan di Bursa pengaruh Indonesia (BEI) di lepas 29 September 2005. Perusahaan telekomunikasi XL Axiata ketika ini telah memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) serta internet of things (IoT) buat membantu pemerintah memantau banjir. Hal ini pun sejalan dengan transformasi digital yang waktu ini tengah gencar dilakukan pemerintah buat pengembangan ekosistem ekonomi digital di Indonesia.
Direktur & CTO XL Axiata I Gede Darmayusa pun menyebutkan, bahwa dalam transformasi digital pihaknya mempunyai beberapa langkah yang sudah dipersiapkan. keliru satunya buat 5G, XL Axiata melihat teknologi ini perlu buat dirasakan konsumen serta perusahaan. “5G penting karena interception benar-sahih terjadi antara operator serta konsumen. Kombinasi dari enhanced mobile broadband, konektivitas, dan sebagainya bisa dikembangkan,” kata Darmayusa dalam paparannya di webinar ‘Selular Congress 2022’, Kamis (31/3/2022). XL Axiata pun tak hanya memanfaatkan 5G, tetapi juga IoT serta AI buat dapat mendukung pengembangan bisnisnya. AI sendiri dimanfaatkan mulai asal internal, menggunakan dua hal besar yang diperhatikan yaitu efisiensi bisnis serta peningkatan pengalaman konsumen.
Mengandalkan kolaborasi teknologi tadi, Darmayusa juga mengakui bahwa XL Axiata telah membantu Pemerintah Jakarta buat memantau potensi mala banjir pada beberapa titik pada Kota Jakarta. “Kita telah bekerja sama dengan Pemerintah Jakarta buat memantau banjir, jadi kita tidak hanya fokus di bidang telekomunikasi saja,” ungkap Darmayusa.
Dalam kesempatan yang sama, VP Internet of Things Telkomsel Alfian Manullang menyampaikan bahwa pihaknya pula sudah berbenah buat transformasi digital. Alfian pula menilai bahwa IoT dan AI sendiri hanyalah satu alat yang mampu diandalkan untuk efisiensi usaha. Alfian menuturkan, bahwa perlu diingat Bila penggunaan AI dan IoT berujung pada bagaimana penggunanya memproses data dan memanfaatkannya. Selain itu, ketika ini kerja sama teknologi serta banyak sekali stakeholder pun dibutuhkan buat transformasi digital.
“Kita tidak bisa berdiri sendiri, mirip pula IoT yang membutuhkan AI, blockchain, serta sebagainya. contohnya AI dan IoT, itu bukan berarti 1+1 = dua, bisa saja 11. Jadi hasilnya itu luar biasa,” ungkap Alfian. Saat ini, Telkomsel pun sudah melakukan spesialisasi sinkron dengan industri vertikal buat bisa menyebarkan teknologi AI, IoT, dan sebagainya. Industri vertikal di antaranya seperti transportasi, logistik, financial center, perbankan, dan lain sebagainya. Alfian juga menekankan bahwa pada penggunaan AI dan IoT, konektivitas hanya pintu. “Hal yg sebenarnya wajib dipahami, adalah bahwa kita harus melihat inti berasal permasalahan konsumen dan menyampaikan solusinya mirip device aplikasi, cyber security, serta public and private network,” pungkas Alfian.