Bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini menyadarkan pentingnya sistem mitigasi yang andal. dalam hal ini, big data disebut dapat mewujudkan mitigasi 4.0 buat mengurangi risiko bencana alam.
Big data merupakan formasi data yang sangat besar , baik yang terstruktur maupun yang tidak struktur sekali pun. Sederhananya, big data artinya pengumpulan dan penggunaan informasi asal aneka macam sumber buat membuat keputusan yang lebih baik.

Dalam diskusi yang digelar oleh Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan rakyat, Fakultas Ekologi Sumberdaya manusia (Fema) IPB University menggunakan tema ‘Pemanfaatan Big Data dalam Mitigasi bencana menjadi Bentuk Komunikasi Risiko serta Krisis’ baru-baru ini, Founder PT Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi, mengatakan bahwa berita dari media daring lebih terstruktur dan mengandung data kebencanaan.
“Dengan mengekstrak data mala memakai teknologi komputasi bahasa, berita daring menjadi lebih representatif dan membahas apa yang tidak terdapat di media umum. karena media umum cenderung terkena bias pengguna,” kata Ismail dalam rilis asal IPB yang diterima detikEdu.
Dia mengungkapkan, cuitan masyarakat internet (warganet) di media umum tentang peristiwa bencana sebagai sumber krusial untuk mendapat berita kebencanaan. Menurutnya, data asal Open Source Intelligence bisa sebagai pemantauan serta analisis kebencanaan pada seluruh Indonesia.
Founder Drone Emprit tadi menambahkan, berita asal data tadi dapat diklasifikasi pada beberapa kategori, yaitu insiden bencana, penyaluran donasi dan lokasi mala. pada hal ini, klasifikasi informasi krusial dirancang agar info menjadi bermakna buat monitoring serta analisis.
Melansir dari detik.com, sistem big data bisa menjadi masukan bagi taktik komunikasi serta penyusunan kebijakan. Ismail berharap strategi komunikasi diperlukan supaya publik menjadi subjek pada mitigasi bencana.
sementara itu, ketua Asosiasi Jurnalis bencana serta Krisis Indonesia, Ahmad Arif, berkata bahwa beberapa negara sukses memakai big data selama pandemi, mirip China dan Korea Selatan. Menurutnya, big data dapat dimanfaatkan sebagai komunikasi risiko.
“Di Indonesia, pengendalian data berita masih dikendalikan oleh pemerintah. contohnya, data kematian selama pandemi COVID-19 masih berbeda-beda. Komunikasi risiko masih bersifat inkonsistensi,” ujar Ahmad.
1. ALIBABA CLOUD PERKENALKAN KOMPUTASI AWAN UNTUK MASYARAKAT GO DIGITAL
2. KOMINFO JALANKAN PROGRAM PENGEMBANGAN UNTUK TALENTA DIGITAL DI 2022
3. BRIN DUKUNG ASEAN UNTUK BUAT PETA JALAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI AI